Dalam dinamika ini, saya menyadari bahwa hubungan adalah cermin. Setiap kali saya marah kepada pasangan, sebenarnya saya sedang marah pada bagian diri saya yang belum terselesaikan. Storyline pada fase ini bukanlah tentang bunga dan cokelat, melainkan tentang air mata, malam-malam tanpa tidur, dan perdebatan sengit tentang hal-hal sepele.